Sejarah Pusat Penelitian Laut Dalam

Kawasan Timur Indonesia memiliki luas 1.293.215 km2 atau 67,91% dari seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar dari wilayah ini adalah lautan yang memiliki daya tarik bagi para ilmuan dunia. Hal ini telah dibuktikan dengan banyaknya ekspedisi ilmiah internasional yang singgah di perairan wilayah  Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Ekspedisi yang dilakukan pada tahun 1519 – 1522 oleh Magellan dari Spanyol bertujuan untuk mencari kepulauan rempah-rempah di Maluku. Sesudah itu, tercatat ada ekspedisi Cornelis de Houtman dan Willem Janszoon (1565-1599), Ekspedisi Francis Drake (1577-1580), Ekpedisi Rumphius (1627-1702), Ekspedisi de Bougainville (1766-1769), Ekspedisi Duperrey (1822-1825), Ekspedisi Challenger (1872-1876), dan Ekspedisi Siboga (1899-1900).

D'Amboinsche Rariteitkamer source: wikipedia

D’Amboinsche Rariteitkamer
source: wikipedia

Salah satu ekspedisi yang memicu untuk melakukan kajian ilmiah lebih mendalam di Indonesia adalah temuan-temuan Greogory Everhadus Rumphius, yang pada tahun 1705 dipublikasikan dalam buku yang berjudul “D’Amboinsche Rariteitkamer”. Flora dan fauna hasil koleksi Rumphius sebagian besar diberi nama ilmiah oleh Linnaeus (1758), yang kemudian dikenal sebagai Bapak “binomial nomenclatur”. Oleh karena itu “D’ Amboinsche Rariteitkamer” menjadi panduan bagi para peneliti berikutnya untuk menyusun “The natural history of Ambon” terutama untuk invertebrata laut.

Seiring dengan perkembangan ilmu kelautan di negara-negara maju dan di Indonesia, Pemerintah Indonesia kemudian memberikan perhatian terhadap pembangunan kelautan dan percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno kemudian mencanangkan Ambon sebagai tempat untuk mendirikan Institut Oseanografi terbesar di Asia Tenggara (Institut Teknologi Ambon) dengan bantuan Pemerintah Rusia. Pembangunannya dimulai pada tahun 1962, namun terhenti akibat situasi politik di tahun 1965.

Keunikan perairan Maluku tetap memotivasi pengambil keputusan di tingkat pusat untuk mewujudkan simpul penelitian kelautan di Ambon dengan dibangunnya Stasiun Penelitian Ambon (SPA) oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tahun 1970, dengan memanfaatkan fasilitas yang telah disiapkan untuk pembangunan Institut Teknologi Ambon.

Penjejakan dimulai sejak tahun 1970 yaitu dengan menyempurnakan beberapa ruang di gedung utama (Blok-B) seluas 360 m2 dari Stasion Teluk Ambon untuk keperluan kantor, laboratorium dan ruang koleksi serta memperbaiki dan menyelesaikan beberapa bangunan rumah untuk tempat tinggal tenaga peneliti. Untuk mengawasi pelaksanaan di lapangan, ditunjuk Drs. Atjep Suwartana.

Pada tahun 1972, 4 orang tenaga peneliti diangkat oleh LIPI dan ditempatkan di Ambon yaitu Ir. L. F. Wenno, Ir. Daniel Sapulete, A. B. Sutomo, M.Sc., dan Ir. Kurnaen Sumadhiharga. Walaupun dengan keterbatasan, pada tahun 1973 SPA LON LIPI mulai menerbitkan “Buletin Lonawarta” (Warta LON Ambon) yang kemudian menjadi “Majalah Semi Populer LONAWARTA” yang penerbitannya terhenti tahun 1998.

SPA LON-LIPI secara resmi didirikan berdasarkan SK Ketua LIPI no. 245A/Kep./S.5/75, walaupun  kegiatan penelitian sudah dilaksanakan di tahun sebelumnya. Setelah diresmikan, SPA LON-LIPI mendapat tambahan pegawai menjadi 18 orang. Guna mendukung kegiatan penelitian, pada tahun 1974 SPA LON-LIPI memperoleh kapal penelitian berukuran kecil yang bernama KM. TIRTA yang beroperasi hingga tahun 1982.

Adanya peningkatan dalam kegiatan penelitian dan jumlah pegawai yang bertambah menjadi 77 orang, maka pada tahun 1983 kantor SPA LON-LIPI pindah dari Kampus Universitas Pattimura ke gedung baru seluas 3200 m2 di Kampung Guru-Guru, Poka, yang berada pada lahan seluas 8 ha. Gedung ini dilengkapi dengan Laboratorium Biologi, Ekologi dan Oseanografi, Ruang Koleksi Rujukan Biota Laut (Reference Collection), perpustakaan, dan ruang-ruang administrasi.

Tahun 1985, Sujatno Birowo, M.Sc. diangkat sebagai Kepala SPA LON-LIPI menggantikan Drs. Atjep Suwartana. Selanjutnya, berdasarkan keputusan Presiden RI No. 1 tahun 1986, SPA LON-LIPI mengalami peningkatan status menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut (Balitbang SDL), dan merupakan bagian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI. Kemudian dalam perkembangannya Balitbang SDL LIPI membawahi tiga stasiun penelitian masing-masing di Tual, Bitung, dan Biak.

Dalam periode 1985-1990, SPA LON-LIPI banyak mengalami kemajuan yang signifikan baik dari aspek penelitian maupun administrasi, walaupun pada masa itu anggaran yang diperoleh sangat terbatas. Salah satu capaian penting dalam periode tersebut yaitu diterbitkannya dua buku pada tahun 1987 yaitu Buku “Teluk Ambon” dan Buku “Perairan Maluku dan Sekitarnya”. Dengan adanya antusias para peneliti yang sangat tinggi dalam menghasilkan karya ilmiah, maka pada akhirnya Buku Perairan Maluku dan Sekitarnya diterbitkan secara berkala dan menjadi Jurnal Ilmiah. Kondisi ini dapat dipertahankan sampai akhir tahun 1999, dan terhenti publikasinya. Tahun 2011, buku Perairan Maluku dan Sekitarnya diterbitkan kembali, namun dengan status terbitan khusus.

Tahun 1986, Balitbang Sumberdaya Laut memperoleh kapal penelitian dengan bobot 132 ton yaitu KR. Rd. Soeriaatmadja yang mendukung kegiatan penelitian hingga tahun 2003. Di tahun ini pula pembangunan Laboratorium Budidaya dimulai untuk mendukung kegiatan penelitian budidaya biota laut langka dan terancam punah.

Tahun 1990 Ir. Ono Kurnaen Sumadhiharga, M.Sc. diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL. Pada saat itu peningkatan kegiatan penelitian melalui berbagai program seperti Riset Unggulan Terpadu dan kerjasama dengan berbagai institusi baik di dalam maupun luar negeri. Penelitian-penelitian yang dilaksanakan saat itu banyak yang memperoleh hasil memuaskan, diantaranya penelitian Restoking Lola, pemijahan kima, Carragenan, dan inventarisasi potensi sumberdaya laut pada beberapa wilayah di Kawasan Timur Indonesia.

Tahun 1997, Drs. Pramudji, M.Sc. diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL. Pada tahun itu juga, Balitbang SDL memperoleh satu kapal riset “Baruna Jaya VII” dengan bobot 641 GT dengan panjang kapal 49,90 m dan lebar 9,60 m. Kapal ini dilengkapi dengan laboratorium dan peralatan penelitian, antara lain CTD, echosounder, dan multibeam.

Tahun 1998, Dr. Ir. Sam Wouthuyzen diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL, namun setahun kemudian terjadi tragedi kemanusiaan di Maluku, sehingga berdampak pada aktivitas kantor dan penelitian. Sekitar sepertiga dari 182 orang pegawai mutasi ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Jakarta. Kondisi kantor, laboratorium dan perumahan LIPI di Ambon mengalami kerusakan dan banyak fasilitas penelitian dan perkantoran yang hilang.

Tahun 2002, Balitbang SDL mengalami perubahan status menjadi Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Biota Laut (UPT BKBL Ambon) yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala LIPI No. 1011/M/2002. UPT BKBL merupakan satuan kerja LIPI yang memiliki tiga jabatan struktural yaitu Kepala UPT, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Kepala Seksi Koleksi dan Registrasi Biota Laut, serta didukung oleh kelompok jabatan fungsional.

Tugas utama dari UPT BKBL Ambon adalah melakukan konservasi, penelitian dan pelayanan jasa di Perairan Maluku. Saat itu Ir. Usman Pelu, M.Si. diangkat sebagai Kepala UPT Balai Konservasi Biota Laut sampai tahun 2006. Kepala UPT BKBL periode 2006-2009 dijabat oleh Drs. Mujiono, M.Si. Kepala UPT BKBL tahun 2009-2014 dijabat oleh Dr. Augy Syahailatua.

Tanggal 13 Mei 2014, Kepala LIPI Prof. DR. Lukman Hakim melakukan peresmian perubahan status UPT Balai Konservasi Biota Laut Ambon menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) – LIPI, dan Dr. Augy Syahailatua ditetapkan sebagai  Kepala P2 Laut Dalam. Perubahan status ini mengakibatkan berubah pula wilayah kerja Pusat Penelitian Laut Dalam yakni mencakup Kawasan Timur Indonesia. Fokus penelitian diarahkan untuk eksplorasi sumberdaya laut dalam dan konservasi sumberdaya laut.

Sejak keberadaan LIPI di Ambon, Maluku terdapat beberapa Pejabat Tinggi Negara dan Duta Besar yang pernah berkunjung yaitu

  • Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. B. J. Habibie, tanggal 5 Mei 1985
  • Menteri Pertahanan dan Keamanan RI, Jenderal Poniman, tanggal 28 Oktober 1985
  • Wakit Ketua DPR RI. Saiful Sulun, tanggal 8 September 1988
  • Duta Besar Inggris untuk Republik Indonesia, Jefferey Lutz, tanggal 18 Angustus 1988
  • Anggota Komisi I DPR RI, tanggal 8 Oktober 1988
  • Wakil Presiden RI Sudharmono, SH, tanggal 14 Juni 1990
  • Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. B. J. Habibie, tanggal 29 April 1991
  • Anggota Komisi VII DPR RI tanggal, 10 Oktober 2008
  • Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. Kusmayanto Kadiman, tanggal 31 Maret 2009
  • Anggota Komite IX DPD RI sebanyak 12 orang yang dipimpin oleh ketua Komite Prof. Dr. John Piris, tanggal 7 Oktober 2010
  • Menteri Riset dan Teknologi RI, tanggal 17 Juli 2012
  • Anggota Komisi III DPRD Kota Ambon, pada tanggal 27 Juli 2012 untuk mendapat penjelasan langsung tentang fenomena HAB di Teluk Ambon
Hak Cipta © 2016-2017 - Pusat Penelitian Laut Dalam - LIPI