Kontak Kami

 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Pusat Penelitian Laut Dalam

Alamat : Jl. Y. Syaranamual, Poka, Ambon 97233
Telp. 0911-322676, 322677; Fax. 322700
E-mail: p2ld@mail.lipi.go.id, keuangan.p2ld@mail.lipi.go.id
www.deepsea.lipi.go.id

 

 

 

 

Sejarah

SEJARAH PUSAT PENELITIAN LAUT DALAM  – LIPI                      

 

Kawasan Timur Indonesia yang memiliki luas 1.293.215 km2 atau sebesar 67,91% dari seluruh wilayah Indonesia, dan sebagian besar dari wilayah ini adalah lautan, memiliki daya tarik bagi para ilmuan dunia. Semua ini telah dibuktikan dengan banyaknya ekspedisi ilmiah internasional yang dalam perjalanannya keliling dunia, juga menyinggahi perairan-perairan di wilayah bagian timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku dan Papua. Ekspedisi yang pertama dilakukan pada tahun 1519 – 1522 oleh Magellan dari Spanyol untuk mencari kepulauan rempah-rempah di Maluku. Sesudah itu, tercatat ada ekspedisi Cornelis de Houtman dan Willem Janszoon (1565-1599), Ekspedisi Francis Drake (1577-1580), Ekpedisi Rumphius (1627-1702), Ekspedisi de Bougainville (1766-1769), Ekspedisi Duperrey (1822-1825), Ekspedisi Chalenger (1872-1876), dan Ekspedisi Siboga (1899-1900).

Salah satu ekspedisi yang memicu untuk melakukan kajian ilmiah lebih mendalam di Indonesia adalah temuan-temuan Greogory Everhadus Rumphius, yang kemudian dipublikasikan dalam buku yang berjudul “D’Amboinsche Rariteitkamer” pada tahun 1705. Fauna dan flora yang dikoleksi oleh Rumphius sebagian besar diberi nama ilmiah oleh Bapak “binomial nomenclatur ”Linnaeus (1758). “D’ Amboinsche Rariteitkamer” kemudian menjadi panduan bagi para peneliti berikutnya untuk menyusun “The natural history of Ambon” terutama untuk invertebrata laut.  Disamping itu Ekspedisi Chalenger juga menjadi fundamental ilmu oseanografi modern.

Seiring dengan perkembangan ilmu kelautan di negara-negara maju dan di Indonesia, Pemerintah Indonesia kemudian memberikan perhatian terhadap pembangunan kelautan dan percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Untuk maksud tersebut Presiden RI pertama, Ir. Soekarno mencanangkan Ambon sebagai tempat untuk mendirikan Institut Oseanografi terbesar di Asia Tenggara (Institut Teknologi Ambon) dengan bantuan Pemerintah Rusia. Rencana pembangunannya dimulai pada tahun 1962, namun kemudian terhenti akibat situasi politik tahun 1965.

Keunikan perairan Maluku tetap memotivasi pengambil keputusan di tingkat pusat untuk mewujudkan simpul penelitian kelautan di Ambon dengan dibangunnya Stasiun Penelitian Ambon (SPA) oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tahun 1970, dengan memanfaatkan fasilitas ilmiah yang telah disiapkan untuk pembangunan Institut Teknologi Ambon.

Penjejakan dimulai sejak tahun 1970 yaitu dengan menyempurnakan beberapa ruang di gedung utama (Blok-B) seluas 360 m2 dari Stasion Teluk Ambon (FTA) untuk keperluan kantor, laboratorium dan ruang koleksi; memperbaiki dan menyelesaikan beberapa bangunan rumah untuk tempat tinggal tenaga peneliti. Untuk mengawasi pelaksanaan di lapangan, ditunjuk Drs. Atjep Suwartana. Pada tahun 1972, 4 orang tenaga peneliti diangkat oleh LIPI dan ditempatkan di Ambon yaitu Ir. L. F. Wenno, Ir. Daniel Sapulete, A. B. Sutomo, M.Sc. dan Ir. Kurnaen Sumadhiharga. 

 

 

Walaupun masih penuh dengan keterbatasan, namun pada tahun 1973, SPA LON LIPI mulai menerbitkan “Buletin Lonawarta” (Warta LON Ambon) yang kemudian menjadi “Majalah Semi Populer LONAWARTA” yang penerbitannya terhenti tahun 1998.

Secara resmi SPA LON LIPI didirikan berdasarkan SK Ketua LIPI no. 245A/Kep./S.5/ 75, walaupun pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan penelitian sudah dilaksanakan. Setelah diresmikan, SPA LON LIPI mendapat tambahan pegawai menjadi 18 orang.

Guna mendukung kegiatan penelitian yang semakin meningkat maka pada tahun 1974 SPA LON LIPI memperoleh kapal penelitian berukuran kecil yang bernama KM. TIRTA dan kapal ini beroperasi hingga pada tahun 1982.

 

 

SPA, LON-LIPI mengalami peningkatan dalam kegiatan penelitian dan jumlah pegawai bertambah menjadi 77 orang maka pada tahun 1983 kantor SPA LON-LIPI pindah dari Kampus Universitas Pattimura ke gedung baru seluas 3200 m2 di Kampung Guru-Guru, Poka, yang berada pada lahan seluas 8 ha. Gedung ini dilengkapi dengan Laboratorium Biologi, Ekologi dan Oseanografi, Ruang Koleksi Rujukan Biota Laut (Reference Collection), per-pustakaan, dan ruang-ruang administrasi.

Tahun 1985, Sujatno Birowo, M.Sc. diangkat se-bagai Kepala SPA LON-LIPI menggantikan Drs. Atjep Suwartana. Selanjutnya, ber-dasarkan keputusan Presiden RI No. 1 tahun 1986, SPA LON LIPI mengalami peningkatan status menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut (Balitbang SDL), dan merupakan bagian dari Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Oseanologi LIPI. Kemudian dalam perkem-bangannya Balitbang SDL LIPI membawahi tiga stasiun penelitian masing-masing  di Tual, Bitung, dan Biak. 

 

 

Dalam periode 1985-1990, SPA, LON LIPI banyak mengalami kemajuan yang signifikan baik dari aspek penelitian maupun administrasi, walaupun pada masa itu anggaran yang diperoleh sangat terbatas. Salah satu capaian penting dalam periode tersebut yaitu diterbitkannya dua buku pada tahun 1987 yaitu Buku “Teluk Ambon” dan Buku “Perairan Maluku dan Sekitarnya”. Dengan adanya antusias para peneliti yang sangat tinggi dalam menghasilkan karya ilmiah, maka pada akhirnya Buku Perairan Maluku dan Sekitarnya diterbitkan secara berkala dan menjadi Jurnal Ilmiah. Kondisi ini dapat dipertahankan sampai akhir tahun 1999, dan terhenti publikasinya. Tahun 2011, buku Perairan Maluku dan Sekitarnya diterbitkan kembali, namun dengan status terbitan khusus.

Guna mendukung kegiatan penelitian yang semakin meningkat dengan luas area kerja yang mencakup Kawasan Timur Indonesia, maka pada tahun 1986 Balitbang Sumberdaya Laut memperoleh kapal penelitian dengan bobot 132 ton yaitu KR. Rd. Soeriaatmadja. Kapal ini mendukung kegiatan penelitian hingga tahun 2003. Pada tahun 1986 juga dimulai pembangunan Laboratorium Budidaya untuk mendukung kegiatan penelitian budidaya biota laut langka dan terancam punah.          

                                                                                                  

 

 

Tahun 1990 Ir. Ono Kurnaen Sumadhiharga, M.Sc. diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL. Pada saat itu peningkatan kegiatan penelitian melalui berbagai program seperti Riset Unggulan Terpadu dan kerjasama dengan berbagai institusi baik di dalam maupun luar negeri. 

Penelitian-penelitian yang dilaksa- nakan saat itu banyak yang memperoleh hasil memuaskan, diantaranya penelitian Restoking Lola, pemijahan kima, Carragenan, dan inventarisasi potensi sumberdaya laut pada beberapa wilayah di Kawasan Timur Indonesia.

 

 

       Tahun 1997, Drs. Pramudji, M.Sc. diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL. Pada tahun itu juga,  Balitbang SDL memperoleh satu kapal riset “Baruna Jaya VII” dengan bobot 641 GT dengan panjang kapal 49,90 m dan lebar 9,60 m.Kapal ini dilengkapi dengan  laboratorium dan peralatan penelitian, antara lain CTD, echosounder,dan multibeam.

       Tahun 1998, Dr. Ir. Sam Wouthuyzen diangkat sebagai Kepala Balitbang SDL, namun setahun kemudian terjadi tragedi kemanusiaan di Maluku, sehingga berdampak pada aktivitas kantor dan penelitian. Sekitar sepertiga dari 182 orang pegawai mutasi ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Jakarta. Kondisi kantor, laboratorium dan perumahan LIPI di Ambon mengalami kerusakan dan banyak fasilitas penelitian dan perkantoran yang hilang.                                                           

         Tahun 2002, Balitbang SDL mengalami perubahan status menjadi Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Biota Laut (UPT BKBL Ambon) yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala LIPI No. 1011/M/2002. UPT BKBL merupakan satuan kerja LIPI yang memiliki tiga jabatan struktural yaitu Kepala UPT, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Kepala Seksi Koleksi dan Registrasi Biota Laut, serta didukung oleh kelompok jabatan fungsional.

          Tugas utama dari lembaga ini yakni: melakukan konservasi, penelitian dan pelayanan    jasa di Perairan Maluku. Pada saat itu juga Ir. Usman Pelu, M.Si. diangkat sebagai Kepala UPT Balai Konservasi Biota Laut, dan menjabat sebagai kepala UPT sampai tahun 2006. Kemudian, Drs. Mujiono, M.Si. menjabat Kepala UPT BKBL dari 2006-2009, dan selanjutnya Dr. Augy Syahailatua sebagai Kepala UPT BKBL 2009- sampai dengan UPT Balai Konservasi Biota Laut Ambon mengalami peningkatan status menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) – LIPI .  Pengresmian P2LD – LIPI  dilakukan oleh Kepala LIPI, Prof. DR. Lukman Hakim pada tanggal 13 Mei 2014 di Ambon. Perubahan status ini mengakibatkan berubah pula wilayah kerja Pusat Penelitian  Laut Dalam yakni :  mencakup Kawasan Timur Indonesia. Fokus penelitian diarahkan untuk eksplorasi sumberdaya Laut dalam dan konservasi sumberdaya laut.         

                     

Sejak berada di Maluku, LIPI Ambon pernah dikunjungi oleh beberapa Pejabat Tinggi Negara dan Duta Besar antara lain: 

 

  •  Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. B. J. Habibie, tanggal 5 Mei 1985.

           

  • Menteri Pertahanan dan Keamanan RI, Jenderal Poniman, tanggal 28 Oktober 1985.

           

  • Wakit Ketua DPR RI. Saiful Sulun, tanggal 8 September 1988.

             

  • Duta Besar Inggris untuk Republik Indonesia, Jefferey Lutz, tanggal 18 Angustus 1988.

           

  • Anggota Komisi I DPR RI, tanggal 8 Oktober 1988.

           

  • Wakil Presiden RI Sudharmono, SH, tanggal 14 Juni 1990.

           


  • Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. B. J. Habibie, tanggal 29 April 1991.

           

 

  • Anggota Komisi VII DPR RI tanggal, 10 Oktober 2008.

 

  • Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof. DR. Kusmayanto Kadiman, tanggal 31 Maret 2009.

  • Anggota Komite IX DPD RI sebanyak 12 orang yang dipimpin oleh ketua Komite Prof. Dr. John Piris, tanggal 7 Oktober 2010.

           

  • Menteri Riset dan Teknologi RI, tanggal 17 Juli 2012.

           

  • Anggota Komisi III DPRD Kota Ambon, pada tanggal 27 Juli 2012 untuk mendapat penjelasan langsung tentang fenomena HAB di Teluk Ambon.

           

Visi Misi

LIPI Persiapkan Kapal Riset Laut Dalam

 [AMBON] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai mempersiapkan kapal penelitian dan riset laut dalam dengan teknologi utama sistem “echo-sounding multi-beam” yang mampu menjangkau kedalaman hingga 20.000 kaki atau 6.000 meter. “Kalau teknologi yang utama itu multi-beam untuk pemetaan dasar laut sedalam kira-kira 6.000 meter,” kata Kepala UPT Balai Konservasi Biota Laut (BKBL) LIPI Ambon Augy Syahalaitua kepada Antara di Ambon, Rabu (14/5).

Read more

Anthropogenic Pengaruhi Kelimpahan Fitoplankton di Teluk Ambon

Ambon, Tribun-Maluku.com : Peneliti dari Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) LIPI Ambon Hanung Mulyadi mengatakan anthropogenic (kerusakan lingkungan akibat ulah manusia) mempengaruhi jumlah kelimpahan sel fitoplankton (alga berbahaya) di Teluk Ambon.

Read more

Katak “Bertanduk” hingga Begonia Batak, “Harta Karun” Indonesia yang Terungkap Tahun 2014

ini ditemukan oleh ahli herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy. Nama spesies katak itu adalah Polypedates pseudotilophus. Sebelumnya, spesies katak bertanduk yang ditemukan di bumi Sumatera (P pseudotilophus) ini dianggap jenis yang sama dengan yang di Kalimantan (P otilophus). Namun, analisis genetik dan morfologi mengungkap bahwa keduanya berbeda.

Read more

LIPI kukuhkan tiga profesor riset

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga profesor riset yang menekuni dua disiplin ilmu, sosiologi dan biologi. “Pengukuhan profesor riset ini menjadi yang ke-452, ke-453 dan ke-454,” kata Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Iskandar Zulkarnain di Auditorium LIPI, kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Senin.

 

Read more

Bangun “Science Techno Park”, LIPI Butuh Rp 117 Miliar

CIBINONG, KOMPAS.com – Rencana pengembangan Cibinong Science Center (CSC) dengan menggunakan konsep Science Techno Park (STP) dapat dirampungkan secepatnya bila anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah tepat waktu.

Pasalnya, pemberian anggaran dari pemerintah yang terlambat seringkali menghambat target pembangunan pusat riset yang ada di Cibinong, Bogor, Jawa Barat tersebut.

Kepala Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nurul Taufiqu Rohman, mengatakan waktu pemberian anggaran untuk pembangunan STP akan sangat berpengaruh pada proses pembangunan. Pihaknya berharap agar pemberian anggaran tersebut tak terlambat.

“Kita berharap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) cepat rampung, jadi anggaran pembangunan STP juga tidak terhambat. Target kita di akhir tahun STP sudah bisa dirasakan masyarakat. Kalau pemberiannya di semester kedua tahun ini, bisa-bisa target itu tak tercapai,” ujar Nurul saat ditemui Kompas.com  di gedung Pusat Inovasi LIPI, Cibinong, Senin (09/02/2015).

Untuk pembangunan STP sendiri, lanjut Nurul, pihaknya mengusulkan alokasi anggaran sebesar Rp 117 miliar dalam lima tahun. Di tahun 2015, anggaran pembangunan yang diusulkan untuk pembangunan STP sendiri sebesar Rp 35 miliar.

“Tahun 2015 ini kita akan prioritaskan dalam pembangunan infrastruktur yang dapat menunjang alih teknologi dari LIPI sendiri. Masyarakat kan menginginkan hasil riset segera dinikmati mereka,” tandas Nurul.

Pembuatan STP di Cibinong Science Center merupakan salah satu program yang ditargetkan pemerintah untuk membangun 100 Techno Park dan 34 Science Park pada periode 2015-2019.

LIPI sendiri dipercaya pemerintah untuk membangun satu STP di Cibinong Science Center serta tujuh Techno Park di beberapa daerah, yakni Samosir (Sumatera Utara), Enrekang (Sulawesi Selatan), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Banyumulek (Nusa Tenggara Barat), Tasikmalaya (Jawa Barat), Ternate (Maluku), dan Tual (Maluku).

Sumber: www.kompas.com

LIPI prioritaskan pembangunan 14 kebun raya

“Ada 14 kebun raya daerah yang menjadi prioritas untuk dibangun hingga 2019 nanti, baik itu kebun raya daerah yang terletak di perkotaan maupun non perkotaan,” kata Kepala Subbidang Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Kawasan Konservasi Tumbuhan Ex-Situ Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-LIPI, Ir Dwi Murti Puspitaningtyas, MS.c di Bogor, Rabu.

Read more

Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PUSAT PENELITIAN LAUT DALAM – LIPI

 

Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI terdiri dari:

  1. Bagian Tata Usaha,
  2. Bidang Sarana Penelitian, dan
  3. Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian.

 

Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI dipimpin oleh seorang Kepala (Eselon II.a).

Bagian Tata Usaha, Bidang Sarana Penelitian dan Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian  masing-masing dipimpin oleh Kepala Bagian (Eselon III.a).

Bagian Tata Usaha terdiri dari Subbagian Keuangan dan Subbagian Kepegawaian dan Umum masing-masing dipimpin oleh Kepala Subbagian (Eselon IV.a).

Bidang Sarana Penelitian terdiri dari Subbidang Sarana Teknis dan Subbidang Peralatan Penelitian yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Subbidang (Eselon IV.a).

Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian terdiri dari Subbidang Pengelolaan Hasil Penelitian dan Subbidang Diseminasi dan Kerjasama yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Subbidang (Eselon IV.a).

 

Adapun nama-nama pejabat struktural di Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI adalah sebagai berikut: