Bia Manis Yang Kian Habis

Bia manis merupakan istilah yang dipakai orang Ambon untuk menyebut kerang kerek atau venus clam (Gafrarium sp.). Meskipun demikian, adapula yang menyebutnya bia pica balanga disebabkan ketika dimasukkan dalam belanga, kerang tersebut langsung pica (pecah). Kerang yang termasuk famili Veneridae (Kelas: Bivalvia) ini telah dikenal sebagai salah satu kerang bernilai ekonomis penting. Kerang ini telah dimanfaatkan sebagai sumber protein di beberapa negara seperti India, China, Jepang dan New Caledonia. Cangkangnya dapat pula digunakan untuk bahan pembuatan souvenir dan perhiasan.

Di kawasan Teluk Ambon, bia manis hampir tersebar di seluruh pesisir terutama yang memiliki substrat pasir dan berlumpur. Umumnya kepadatannya akan lebih tinggi di daerah dengan adanya vegetasi mangrove. Kerang ini menjadi salah satu target pencarian kerang konsumsi terutama pada saat pantai dalam kondisi surut yang dilakukan oleh penduduk lokal. Aktivitas ini biasa dikenal dengan istilah bameti.

Eksploitasi yang dilakukan terus-menerus tanpa memperhatikan waktu dan ukuran kerang mengakibatkan populasi kerang ini semakin menurun. Kerusakan ekosistem akibat pengaruh antropogenik di sekitar lingkungan pesisir juga ikut andil dalam memperparah kondisi ini. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kepadatan tertinggi bia manis ini terdapat di kawasan Passo dan Lateri yang diketahui kedua daerah ini terdapat vegetasi mangrove yang cukup bagus, bahkan vegetasi mangrove di Passo terbilang cukup lebat meskipun ada tekanan sedimentasi akibat buangan bahan galian dari lahan atas yang tentunya mempengaruhi komposisi biota yang ada. Nilai kepadatan yang menurun dijumpai di daerah Hunut, Poka, Halong serta beberapa lokasi di Teluk Ambon Luar.

Kesesuaian habitat diketahui juga mempengaruhi ukuran tubuh dari kerang itu sendiri. Bia manis yang ditemukan di Teluk Ambon Dalam secara umum memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan Teluk Ambon Luar. Beberapa faktor lingkungan seperti arus, kondisi substrat, luasnya daerah pasang surut dan lainnya tentunya mempengaruhi kondisi ini. Lebih lanjut, faktor eksploitasi kemungkinan juga memiliki dampak terhadap kelimpahan dan ukuran kerang tersebut. Ini terlihat di daerah Tawiri di Teluk Ambon Luar, di mana kepadatan bia manis pada daerah ini cukup tinggi namun didominasi oleh kerang yang berukuran kecil. Untuk menjawab permasalahan ini tentunya diperlukan penelitian lebih lanjut terutama terkait laju eksploitasi terhadap jenis kerang ini.

Penelitian yang menyeluruh mencakup aspek biologi, ekologi hingga upaya budidaya tentunya sangat perlu untuk dilakukan. Mungkin saat ini kita tidak menganggap penting karena terbuai oleh masih melimpahnya sumberdaya laut kita yang ada. Namun apabila tidak segera dilakukan kajian hingga menghasilkan konsep konservasi, bukan mustahil apabila di waktu mendatang kita tidak bisa menjumpai bia yang manis ini karena telah habis terkikis. [Muhammad Masrur Islami]

Komentar