lamun

Berburu (Jejak) Duyung di Selat Haruku

Duyung adalah salah satu hewan laut yang sangat menarik perhatian, terutama terkait dengan sebutannya sebagai ikan duyung maupun mitos putri duyung. Walaupun disebut ikan duyung namun sebenarnya hewan ini sebenarnya adalah mamalia, karena sang induk melahirkan dan menyusui anaknya. Sedangkan putri duyung sendiri adalah cerita yang dipopulerkan oleh Hans Christian Anderson, yang wujudnya jauh dengan duyung. Duyung sendiri lebih mirip sapi yang memiliki sirip dan ekor daripada seorang putri yang berekor seperti ikan.

Pada tahun 1994 dan 1995, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Hans de Iongh dari Belanda melakukan penelitian mengenai duyung yang hidup di sekitar Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease (Haruku, Saparua dan Nusa Laut). Mereka menggunakan pesawat kecil untuk survey udara di kawasan ini dan hasilnya diperkirakan terdapat 22-37 duyung di perairan ini. Selain itu dilakukan juga pemasangan pemancar pada beberapa ekor duyung sehingga beberapa lokasi inti tempat duyung sering muncul diketahui, salah satunya adalah di pesisir Selat Haruku.  Sayangnya penelitian yang menarik ini terhenti seiring terjadinya konflik sosial di Maluku.

 Untuk mengetahui status terkini mengenai duyung yang ada di Selat Haruku, Pusat Penelitian Laut Dalam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menurunkan satu tim penelitian pada tahun 2015, dengan area target difokuskan pada Desa Waai, Haruku dan Kailolo. Dengan terbatasnya anggaran membuat survey udara dan pemasangan pemancar tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Maka pada penelitian kali ini digunakan pendekatan lain melalui wawancara dengan nelayan dan penduduk setempat serta pencarian jejak makan hewan ini. 

Atas dukungan dari pemerintahan desa/negeri di Waai, Haruku dan Kailolo dalam kegiatan wawancara dan survey lapangan, tim penelitian memperoleh banyak informasi tentang keberadaan duyung di daerahnya masing-masing. Secara umum, dari hasil wawancara diketahui bahwa duyung masih ada dan sering terlihat pada musim ombak di perairan desa mereka. Jumlah yang sering terlihat adalah dua ekor (satu pasang). Tidak terdapat praktek penangkapan langsung dan duyung yang tidak sengaja tertangkap juga merupakan kasus yang sangat jarang. Hal ini sangat menggembirakan karena duyung merupakan hewan yang terancam punah dan statusnya dilindungi oleh pemerintah.

Dari hasil wawancara juga diperoleh informasi mengenai area tempat duyung sering muncul. Ketika area-area tersebut disurvey, ditemukan beberapa jejak makan duyung terhadap lamun yang tumbuh di area tersebut. Hal ini menjadi validasi keberadaan duyung di area tersebut, walaupun tim tidak berhasil mendokumentasikan hewannya secara langsung. Pada areal lamun yang memang diketahui makanan favoritnya seperti jenis Halodule uninervis dan Halophila ovalis, teramati adanya bekas makan duyung yang menyerupai garukan dengan lebar sekitar 30 cm dan panjang bisa mencapai 2 meter.

Hal lain yang menarik adalah pada beberapa lokasi yang diinformasikan oleh warga sering terlihat duyung, tidak ditemukan adanya lamun yang tumbuh, padahal diketahui bahwa lamun adalah makanan hewan ini. Akan tetapi ada satu hal yang merupakan kesamaan dari lokasi-lokasi tersebut yaitu keberadaan air tawar di pantai, yang tertutup air laut ketika kondisi pasang. Hal ini memunculkan dugaan dari salah anggota tim bahwa duyung datang ke lokasi ini untuk minum air tawar. Namun untuk memastikan hal ini perlu penelitian lebih lanjut tentunya. Semoga tim ini masih diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Artikel ini ditulis oleh Andri Irawan

Artikel ini diunggah oleh Rini Widihastuti (8 Mei 2015)

 

Komentar