Sekilas tentang keberadaan logam berat di Teluk Ambon

Oleh:
Corry Yanti Manullang

Pencemaran yang terjadi di lingkungan pesisir dan laut, kini menjadi topik perbincangan yang serius. Pencemaran lingkungan laut tidak saja terjadi di negara maju, bahkan terjadi sangat serius di negara yang berkembang atau sedang berkembang (Supriharyono, 2009). Hasil-hasil penelitian melaporkan bahwa pencemaran di daerah pesisir dan laut telah mempengaruhi kematian spesies laut, mengancam kesehatan manusia dan berpotensi juga merusak fungsi ekosistem laut secara permanen (Sindermann, 2006).

Tingginya pencemaran di muara dan pantai dipengaruhi oleh adanya paradigma yang keliru bahwa laut yang luas dapat dijadikan sebagai tong sampah yang ideal yang mampu menampung dan melarutkan segala polusi dari darat. Paradigma ini tidak didasarkan pada kenyataan bahwa laut juga mempunyai keterbatasan dalam hal menguraikan bahan tercemar. Laut menerima bahan-bahan yang terbawa oleh air dari daerah pertanian, limbah rumah tangga, sampah dan bahan buangan dari kapal (McLusky & Elliott, 2004).

Jika beban polutan yang diterima oleh perairan telah melampaui daya dukungnya maka kualitas air akan turun. Selain itu, tidak semua bahan pencemar dapat diuraikan dengan mudah, terdapat beberapa bahan pencemar yang sulit atau tidak dapat diuraikan (Durrieu et al., 2005; Supriharyono, 2009). Salah satu bahan pencemar yang kerap dijumpai di perairan adalah logam berat (McLusky & Elliott, 2004). Kehadiran logam berat secara berlebihan di lingkungan bersifat toksik (NOAA, 1991). Perak (Ag), aluminium (Al), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr) dan timbal (Pb) adalah logam non esensial bagi metabolisme mahluk hidup yang bersifat toksik meskipun hadir hanya dalam konsentrasi yang rendah sedangkan kobalt (Co), tembaga (Cu), besi (Fe), mangan (Mn), nikel (Ni), vanadium (V) dan seng (Zn) merupakan logam esensial yang hanya akan bersifat toksik apabila hadir dalam konsentrasi yang tinggi (Baker et al., 2003). 

Tekanan pencemar logam berat sudah mulai tampak di perairan Teluk Ambon. Aktivitas kapal, doking kapal, industri rumah tangga, limbah pertanian, sampah perkotaan, limbah perhotelan dan sampah rumah tangga berpotensi menyumbangkan bahan pencemaran berupa logam berat ke perairan. Dari hasil penelitian – penelitian yang telah dilakukan di sekitar Teluk Ambon Dalam maupun Teluk Ambon hingga saat ini, ditemukan adanya tendensi peningkatan konsentrasi logam berat yang cukup pesat di Teluk Ambon. 

Pengukuran konsentrasi logam berat terkini yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Laut Dalam pada sampel sedimen dengan teknik Flame Atomic Absorption Spectometri mendeteksi konsentrasi logam berat Cd sebesar 0.66 mg.kg-1 di wilayah Tawiri. Konsentrasi ini hampir mencapai nilai baku mutu yang ditetapkan oleh NOAA, yaitu 0,68 mg.kg-1. Kehadiran konsentrasi logam berat yang cukup tinggi Cd di Tawiri sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, pengukuran konsentrasi logam berat di Tawiri pada tahun 2008 oleh UPT Konsenvasi Biota Laut Ambon LIPI telah mendeteksi konsentrasi logam berat Cd sebesar 0.51 mg.kg-1 di wilayah doking kapal tersebut. Yang mengejutkan adalah deteksi konsentrasi logam berat Cd sebesar 0.29 mg.kg-1 di daerah Passo, hal ini meningkat cukup pesat dari hasil penelitian LIPI tahun 2008 dimana konsentrasi logam berat pada saat itu masih di bawah ambang batas limit deteksi alat ukur AAS yaitu 0,0013 mg.kg-1.

Konsentrasi logam berat Pb juga dideteksi cukup tinggi di Tawiri, yaitu sebesar 24.5 mg.kg-1. Konsentrasi logam Pb ini memang masih di bawah ambang batas yang ditentukan oleh NOAA, yaitu 30.24 mg.kg-1. Namun hal ini perlu menjadi kekuatiran bersama, mengingat adanya peningkatan konsentrasi logam berat Pb yang cukup pesat di wilayah ini. Berdasarkan hasil penelitian konsentrasi logam Pb yang dilakukan oleh LIPI pada tahun 2008, konsentrasi logam berat di Tawiri hanya sebesar 2.03 mg.kg-1, ini artinya konsentrasi logam berat Pb di Tawiri telah meningkat sampai 12 kali lebih besar selama kurun waktu 7 (tujuh) tahun.

Pengukuran konsentrasi logam berat di Teluk Ambon tidak hanya dilakukan secara fisik pada air dan sedimen, tetapi beberapa penelitian juga dilakukan pada biota yang ada di perairan teluk Ambon. Pengukuran konsentrasi logam berat yang dilakukan oleh Dominggus Rumahlatu (Fakultas Pendidikan Biologi – Universitas Pattimura pada) tahun 2011, mendeteksi nilai konsentrasi logam berat Cd pada air, sedimen dan bagian tubuh biota Deadema setosum dari Teluk Ambon. Dari empat desa lokasi penelitian (perairan pantai desa : Latta, Liang, Latuhalat dan Tial)  ditemukan konsentrasi logam berat Cd pada air 0.01- 0.03 mg.l-1  dan pada sedimen 0.17-0.32 mg.kg-1, sementara pada bagian tubuh Deadema setosum yaitu duri, cangkang, gonad, dan usus berturut-turut 0.30-1.19, 0.31-0.85, 1.30-1.39, dan 1.31-1.95 mg.kg-1. Nilai konsentrasi logam berat yang lebih tinggi pada biota menunjukkan adanya akumulasi logam berat Cd pada biota Deadema setosum.

Selain mengukur kandungan logam berat Cd dan Pb, UPT konservasi LIPI pada tahun 2008, juga melakukan pengukuran konsentrasi beberapa logam lainnya pada sampel air dan sedimen di 16 stasiun Teluk Ambon Dalam dan Teluk Ambon Luar. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat pada sampel air laut rata-rata masih di bawah limit deteksi alat ukur AAS yaitu (Hg = 0.001; Cr = 0.005; Cd = 0.001; Cu = 0.008; Pb = 0.008 dan Zn = 0.05) mg.l-1, kecuali pada daerah Latta dideteksi konsentrasi Zn sebesar 0.0083 mg.l-1 dan Tantui dideteksi konsentrasi logam berat Zn = 0.0079 mg.l-1 dan Pb sebesar 0.005 mg.l-1. Pada sampel sedimen dideteksi konsentrasi logam berat Pb = 1.397 – 15.28 mg.kg-1; Cd = <0.0013 – 0.194 mg.kg-1 dan logam Zn = 1.258 – 48.800 mg.kg-1. Konsentrasi logam Hg terdeteksi sebesar 0.352 mg.kg-1 di Galala, sementara di stasiun lainnya masih di bawah limit deteksi.

Selanjutnya, deteksi logam berat pada spons Phyllospongia lamellose dilakukan oleh Siahaya, dkk pada tahun 2006. Dari empat lokasi penelitian (Batu Merah, Batu Capeo, Hative besar dan Seri) ditemukan konsentrasi logam berat  Zn, Pb dan Cr secara berturut-turut : Zn (11.208, 2.785, 1.423, 4.645) mg.kg-1; Pb = (12, 8.997, 8.2, 11.521) mg.kg-1 dan Cr = (2.035, 2.585, 1.766, 1.95) mg.kg-1. Pada tahun yang sama, deteksi kandungan logam berat Cr yang lebih redah ditemukan pada biota Anadara Granosa bersama dengan logam berat Cd. Dengan mengambil lokasi penelitian Galala, Lateri, Passo, Waiheru dan Poka dtemukan konsentrasi lgam berat Cr secara berturut-turut adalah : 0.01, 0.16, 0.019, 0.01 dan 0.02 mg.kg-1. Sementara konsentrasi logam berat Cd berturut-turut adalah : 0.009, 0.2, 0.018, 0.01 dan 0.03 mg.kg-1.  

Sementara itu pada tahun 1987, dari hasil studi pendahuluan Balai Litbang Sumber Daya Laut – LIPI, Edward dkk menemukan adanya deteksi konsentrasi logam berat pada air sungai, air laut, sedimen laut dan biota molusca perairan Teluk Ambon. Hasil pengukuran konsentrasi logam berat menunjukkan nilai konsentrasi logam berat air sungai, air laut, sedimen dan biota moluska secara berturut-turut untuk:  Pb = 0.23-0.50, 0.037-0.09, 0.429, 0.25-0.36 mg.kg-1; Cd = 0.042-0.168, 0.004-0.065, 0.625, 0.089-0.47 mg.kg-1; Cu = 0.071-0.145, 0.008-0.058, 0.119 dan Zn = 0.33-0.81, 0.009-0.071, 3.032, 0.34-0.77 mg.kg-1.

 

Sumber Pustaka:

Baker, S., M. Herrchen, K. Hund-Rinke, W. Klein, W. Kordel, W. Peijnenburg, & C. Rensing. 2003. Underlying issues including approaches and information needs in risk assessment. Ecotoxicology and Environmental Safety 56 (1) : 6–19.

Durrieu, G., R. Maury-Brachet, M. Girardin, E. Rochard and A. Boudou. 2005. Contamination by Heavy Metals (Cd, Zn, Cu, and Hg) of Eight Fish Species in the Gironde Estuari (France). Estuaries, 28(4): 581-591.

Edward & F.S Pulumahuny. 1987. Kandungan Logam Berat Hg, Pb, Cd, Cu dan Zn dalam Sedimen di Perairan Teluk Ambon. Jurnal Fakultas Perikanan, 11 (1) : 24 – 30

Edward & Tarigan. 1987. Pengamatan Pendahuluan Kadar Pb, Cd, Cu dan Zn dalam Air dan Biota di Teluk Ambon. Dalam Subaggjo dkk. (Ed.).  Biologi, Perikanan, Oseanografi dan Geologi Teluk Ambon II. LIPI Press Ambon.

Lembaga Ilmu Pengetahuan. 2008. Laporan Monitoring Teluk Ambon. LIPI, Ambon.

McLusky, D.S. and M. Elliott. 2004. The Estuarine Ecosystem : Ecology, Threats, and Management (3th). Oxford University Press Inc., New York. 223 hal.

NOAA. 1991. National Oceanic and Atmospheric Administration : Contamination trends in the Southern California Bight : inventory and assesment. NOAA Technical Memorandum NOS ORCA 62, Seattle

Rumahlatu D. 2011. Konsentrasi Logam Berat Kadmium pada Air, Sedimen dan Deadema setosum (Echinodermata, Echinoidea) di Perairan Pulau Ambon. Jurnal Ilmu Kelautan, vol. 16 (2) 78-85

Siahaya, A.N., J.A.B. Mamesah dan M. Latuihamallo. 2006. Analisa Beberapa Logam Berat pada Spons (Porifera) di Perairan Teluk Ambon. Fakultas FMIPA Universitas Surabaya.

Sindermann, C.J. 2006. Coastal Pollution : Effects on Living Resourcesand Human. CRC Press, Boca Raton, FL. 269 hal.

Supriharyono. 2009. Konservasi Ekosistem Sumber Daya Pantai di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 470 hal.

Komentar