Kondisi Terumbu Karang di Perairan Teluk Ambon

Luas ekosistem terumbu karang di wilayah Teluk Ambon setiap tahun semakin berkurang, seiring dengan meningkatnya kegiatan masyarakat di wilayah tersebut. Wilayah pesisir Teluk Ambon merupakan bagian yang sangat penting bagi Pulau Ambon. Wilayah tersebut menjadi pusat aktifitas masyarakat seperti : permukiman, ekonomi dan bisnis, perhubungan, penangkapan ikan, budidaya perikanan dan aktifitas masyarakat lainnya. Semakin meningkatnya aktifitas masyarakat di wilayah Teluk Ambon berdampak pada semakin menurunnya kualitas perairan, yang membuat semakin terancamnya ekosistem terumbu karang.

Terancamnya ekosistem terumbu karang di wilayah Teluk Ambon, dibuktikan oleh hasil penelitian dan monitoring yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Laut Dalam. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan April 2015, terdapat 16 suku, 50 marga dan 194 jenis karang batu. Sedangkan pada penelitian tahun 2012 diperoleh 17 suku, 60 marga dan 182 jenis. Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun telah terjadi perubahan jumlah suku, marga dan jenis.

Penurunan jumlah suku dan marga disebabkan karena pada beberapa stasiun terjadi kematian karang hidup yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan satu suku dan beberapa marga mati/hilang, diantaranya suku Trachyphyliidae dengan jenis Trachyphyllia geoffroyi. Adabeberapa marga dan jenis yang juga sudah hilang seperti Acropora valenciennesi, Cynarina lacrymalis,Scolimia vitensis, Goniastrea favulus, Barabattoia Amicorum, Pavona cactus, Montipora samariensis, Alveopora catalay,Alveopora spongiosa, Leptoseris Explanata,Psammocora contigua. Sedangkan peningkatan jumlah jenis yang diperoleh pada penelitian ini disebabkan oleh faktor semakin membaiknya kondisi karang hidup dibeberapa stasiun penelitian yang memberikan ruang untuk munculnya jenis-jenis baru.

Data persen penutupan karang hidup, berdasarkan kriteria penilaian kondisi karang hidup suatu wilayah yang dikemukakan oleh Wilkinson et.al. (1992). Berdasarkan hasil penelitian tahun 2015 hanya 1 stasiun saja yang dikategorikan “Sangat Baik” yaitu Dusun Eri (St.3), 1 stasiun yang berkategori “Baik” yaitu Desa Liliboy (St.1), dan 2 stasiun berkategori “Rusak” yaitu Batu Capaeu (St.4) dan Kota Jawa (St.6), serta 4 stasiun berada pada kategori “Sangat Rusak”yaitu Desa Hative Besar (St.2), Desa Poka (St.5), dan Desa Halong (St.7), serta Desa Hunuth (St.8).Berdasarkan hasil penelitian, tingginya kematian karang di beberapa stasiun disebabkan oleh laju sedimentasi yang cukup tinggi. Perkembangan karang hidup di Teluk Ambon tahun 2012 dan 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.


Ditulis oleh : Terry Indrabudi (Pusat Penelitan Laut Dalam)

Diunggah oleh : Retsky. Polnaya (Pusat Penelitan Laut Dalam)

Komentar