Restocking Kepiting Bakau di Pulau Nusalaut

Sosialisasi Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI di Pulau Nusalaut tanggal 14 – 15 Maret 2016 lalu mendapat antusias dari masyarakat setempat. Cukup banyak permintaan dari masyarakat dan pemerintah setempat agar LIPI dapat membantu mereka dalam mengatasi masalah lingkungan. Sosialisasi diadakan pada dua lokasi berbeda yaitu di Desa Ameth dan di Desa Sila. Pada saat tim melakukan sosialisasi di Desa Sila, salah satu permintaan dari masyarakat setempat adalah kepiting bakau yang terdapat di hutan mangrove di Teluk Sila saat ini sudah tidak lagi banyak seperti dulu sehingga mereka meminta LIPI untuk melakukan program restocking atau pemulihan stok alam dari kepiting bakau terutama yang ada di desa mereka.

Tanggal 15 Maret 2016 Kepala Bidang Pengolahan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI, Daniel D. Pelasula, M.Si. mendapat informasi dari Kantor Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas 1 Ambon bahwa mereka telah menyita 64 ekor kepiting bakau di Bandara Pattimura Ambon. Kepiting-kepiting ini dalam kondisi matang gonad sehingga harus dikembalikan ke alam agar dapat berkembang biak dengan baik. Kesokan harinya kepiting yang berasal dari Kepulauan Aru diantar langsung ke Desa Sila – Pulau Nusalaut dengan menggunakan speedboat. Raja Negeri Sila, Wenand Soselisa, turut menjemput kepiting-kepiting tersebut di Pelabuhan Tulehu, Ambon untuk dibawa ke Pulau Nusalaut.

Sesampainya di lokasi restocking kepiting, beberapa tokoh masyarakat telah menunggu untuk melepas kepiting-kepiting tersebut ke alam. Pelepasan kepiting ke alam ini cukup memakan waktu karena harus membuka tali ikatan dengan hati-hati agar kepiting tidak luka atau mati. Dari 64 ekor kepiting yang disita terdapat 7 ekor kepiting yang mati. Kegiatan ini diakhiri dengan doa oleh Raja Negeri Sila, dan beliau memberitahukan kepada masyarakat bahwa LIPI dan masyarakat desa telah melakukan restocking kepiting serta agar selama dua tahun masyarakat tidak boleh mengambil kepiting dari alam. Hari Minggu, 27 Maret 2016, pendeta Gereja Protestan Maluku Gereja Eben Haezer – Jemaat Sila – Leinitu mendoakan agar program restocking kepiting ini dapat menjadi berkat bagi masyarakat setempat dan doa ini pun merupakan awal dari Sasi Kepiting (salah satu kearifan lokal untuk menjaga kelestarian) di Desa Sila, Pulau Nusalaut.

Artikel ini ditulis oleh Humas PPLD-LIPI (29 Maret 2016)

Artikel ini diunggah oleh Rini Widihastuti (29 Maret 2016)

Komentar