LIPI-LARAS Gelar Pelatihan Jurnalistik

Ambon – Majalah Laras dan Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI) menggelar pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar. Pelatihan ini bertujuan untuk menggiatkan budaya menulis di kalangan anak muda, mengenalkan jurnalistik dan jenis media massa. “Saya harap pelatihan tersebut dapat memberi pemahaman baru tentang dunia jurnalisitik kepada peserta yang umumnya dari kalangan mahasiswa”, kata Pelaksana Harian Kepala P2LD-LIPI Daniel Pelasula ketika membuka pelatihan di Gedung P2LD-LIPI di Kota Ambon, Rabu (26/10). Acara ini berlangsung selama tiga hari (26-28 Oktober).

Pimpinan Majalah Laras, Engelina Pattiasina dalam pelatihan jurnalistik mengatakan, Maluku memiliki sejarah panjang sebagai rute pelayaran berbasis jalur rempah. Untuk itu, Fakta ini perlu diangkat lagi media cetak, elektronik maupun online. Jalur rempah masih relevan dengan arah kebijakan pemerintah terkait poros maritim dunia.

jurnalistikPelatihan jurnalistik yang pertama kali di P2LD-LIPI Ambon ini menghadirkan jurnalis senior Daniel Tagukawi sebagai pemateri tunggal. Beberapa poin yang dibahas bersentuhan langsung dengan dunia jurnlistik terutama menguak tentang profesi wartawan. Pada hari pertama dipaparkan gambaran dunia wartawan, berita dan peliputan. Disinggung pula berbagai ragam perkembangan kegiatan jurnalistik dari dulu hingga kini.“Jurnalistik merupakan kekuatan keempat yang dapat mempengaruhi kehidupan suatu negara, setelah kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif” kata Daniel.

Materi yang lebih padat disajikan pada hari kedua meliputi teknik penulisan berita, wawancara, jurnalistik online dan bahasan terkait kode etik jurnalistik. Pemateri mengajak para peserta untuk mengenal lebih mendalam aktivitas wartawan dalam mencari berita dan tantangan besar jurnalistik jaman ini dengan semakin berkembangnya dunia online. Tak kalah pentingnya, seorang jurnalis atau wartawan harus mengerti kode etik jurnalistik sehingga ia tidak serampangan dalam menyajikan berita dan kebablasan dalam memaknai kebebasan pers. “Apa yang saya sampaikan pada pelatihan ini adalah kondisi ideal jurnalistik. Faktanya kadang berbeda, pekerjaan jurnalistik dan media tidak lepas dari permasalahan-permasalahan seperti pemberitaan yang kurang berimbang, jauh dari objektivitas misalnya, kurang bertanggungjawab terhadap kemanusiaan dan lebih tunduk kepada pemilik modal. Inilah tantangan jurnalistik saat ini” tegas Daniel. Redaktur senior yang telah berpengalaman lebih dari dua puluh tahun menggeluti dunia jurnalistik ini juga menekankan pentingnya mengedepankan hati nurani bagi yang ingin menekuni profesi jurnalistik.

Hari ketiga pelatihan diisi dengan pembahasan latihan penulisan berita. Peserta dituntut untuk membuat suatu berita dan selanjutnya dikoreksi sebagai pembelajaran. Para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini, terlihat banyaknya pertanyaan yang diajukan terutama pada hari kedua pelatihan. Bahkan, ada harapan pelatihan-pelatihan semacam ini dapat menjadi agenda rutin di kemudian hari. Terry, salah satu peserta dari LIPI, menyebut pelatihan ini sangat bermanfaat. “Kalau bisa ke depan dibuat lagi pelatihan fotografi atau pembuatan video” katanya. Lain lagi dengan Seno, ia memanfaatkan pelatihan ini untuk mengetahui trik penulisan populer dengan gaya yang luwes mengalir, tidak monoton sehingga enak dibaca.

Apapun harapan yang disampaikan, tentunya kegiatan semacam ini sangat perlu digalakkan dan menjadi agenda rutin terutama untuk menumbuhkan respon positif generasi muda terhadap dinamika tantangan yang mengedepankan keterbukaan informasi di era digital sekarang ini.

Komentar