img_9500

Pelatihan Pembuatan Peta Terumbu Karang oleh COREMAP-CTI LIPI

MAKASSAR – Pusat Penelitian Oseanografi–LIPI (P2O–LIPI) melalui program Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP–CTI) menggelar pelatihan Sistem Informasi Geografis (SIG): Pembuatan Peta Tematik Terumbu Karang. Salah satu tujuan pelatihan ini adalah menghasilkan tenaga ahli pengolah data spasial dalam kegiatan pemantauan terumbu karang dan pemetaan habitat perairan dangkal. Dalam pembukaannya, Suharsono selaku koordinator COREMAP-CTI LIPI menyampaikan, materi pelatihan kali ini akan diberikan mulai dari tingkat dasar hingga lanjut.

Suharsono meimg_9500nambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia (sdm), terutama di kabupaten dalam hal pengolahan data spasial.

Pelatihan akan berjalan selama sepuluh hari (9-18 November) di Hotel Santika, Makassar, Sulawesi Selatan. Jumlah peserta sebanyak 25 orang, terdiri dari perwakilan wilayah kabupaten dan provinsi COREMAP-CTI World Bank (WB), universitas, serta satuan kerja (satker) LIPI yang berada di wilayah Timur Indonesia.

Materi yang akan disampaikan meliputi: pemaparan oleh narasumber; praktek pengolahan data citra satelit menggunaan program komputer, analisa data, pembuatan laporan; diskusi dan review harian; serta presentasi.

Kuliah umum sesi pertama oleh Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Pada salah satu paparannya, Jompa menyebutkan, seorang analis SIG selain mampu menampilkan peta tematik terumbu karang, juga harus dapat menilai berapa benefit (dalam satuan nilai mata uang) yang ada dari ekosistem terumbu karang tersebut. Harapannya, stakeholders terkait, terutama pemerintah daerah (pemda) lebih serius dalam hal manajemen ekosistem terumbu karang yang ada di wilayahnya masing-masing. “Dari ekosistem terumbu karang tersebut terdapat aset senilai sekian rupiah, bila tidak diurus secara baik, akan ada potential loss sekian rupiah”, ujar Jompa.

Dalam sesi diskusi, Seno, salah satu peserta perwakilan Pusat Penelitian Laut Dalam-LIPI (P2LD-LIPI), menanyakan bagaimana luasan-luasan dari ekosistem terumbu karang tersebut dapat di konversi menjadi satuan nilai mata uang, sehingga lebih “bunyi” ketika disampaikan ke pemda. “Mesti ada perhitungan valuasi ekonomi untuk mengetahui angka-angka tersebut”, jawab Jompa, di Makassar,  Rabu (9/11) pagi.

Menutup kegiatan hari pertama, Suyarso, staf peneliti P2O-LIPI yang juga bertindak selaku instruktur , memberikan materi tentang Peta dan Unsur-Unsur Peta. Suyarso menjelaskan, sebuah peta yang baik, minimal harus terdapat unsur-unsur peta berupa, judul, legenda, simbol, arah mata angina, skala, lettering, inset, garis astronomis, sumber dan tahun pembuatan peta. [NOE]

Komentar