Rapat Anggota Tahunan Koperasi Widya Bahari Puslit Laut Dalam – LIPI

dsc_1269Ambon – Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Widya Bahari di Pusat Penelitian Laut Dalam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI) mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada hari Rabu (27/2) pada pukul 09.00 WIT yang dihadiri oleh seluruh anggota, pengurus dan pengawas Koperasi Widya Bahari serta Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Perdagangan (KUMKM) Kota Ambon, ibu R. Purmiasa. Rapat Anggota Tahunan 2017 mengagendakan laporan tahunan 2016 dan rapat rancangan Anggaran Dasar Perubahan. RAT 2017 Koperasi Widya Bahari menghasilkan Anggaran Dasar Perubahan di bidang usaha serta kepengurusan dan keputusan bersama untuk menaikkan uang iuran anggota koperasi.

Ketua Koperasi Widya Bahari, Ibrahim Pelupessy, S.Pi., menyatakan pentingnya kerjasama di antara pengurus dan anggota koperasi guna terwujudnya koperasi yang aktif dan manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak. Demikian pula sambutan yang disampaikan oleh Kepala P2LD-LIPI, Dr. Augy Syahailatua, yang menekankan pentingnya kerjasama dan kerja keras bagi para pengurus koperasi setelah koperasi vakum sejak konflik sosial yang terjadi di Maluku pada tahun 1999-2000 dan aktif kembali pada September tahun 2015. Apresiasi diberikan kepada para pengurus yang membangkitkan kembali koperasi Widya Bahari agar dapat berperan serta dalam mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi khususnya anggota koperasi dan masyarakat pada umumnya. Dukungan pun sangat diperlukan dari para anggota koperasi guna terwujudnya koperasi yang aktif dan bermanfaat.

 

Artikel ini ditulis oleh Iskandar Abd. Hamid Pelupessy, M.Si. (28 Februari 2017)

 

Pusat Unggulan Iptek di Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI

dsc_0921Ambon – Dalam rangka penajaman fokus Pusat Unggulan Iptek (PUI) Konservasi Sumberdaya Tuna di Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI bersama dengan Kemenristek-Dikti mengadakan pertemuan beragendakan pelaksanaan asistensi dalam program PUI tahun 2017 yang diadakan pada hari Jumat (17/2) di kantor Pusat Penelitian Laut Dalam-LIPI (P2LD-LIPI) di Ambon.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala P2LD-LIPI, Dr. Augy Syahailatua, para peneliti dan pejabat struktural P2LD-LIPI serta tim ISO P2LD-LIPI. Dihadiri oleh pula oleh 2 (dua) orang staf Kemenristek-Dikti yaitu Bapak Yudho Baskoro dan Ibu Edita Diah T. D.

Acara dimulai dengan pemaparan dari Bapak Yudho Baskoro, M.Si., MPP. mengenai Pusat Unggulan Iptek secara umum. Bahwa terdapat 68 (enam puluh delapan) item unggulan di PUI yang tersebar di 48 item PUI di Lembaga Litbang baik Kementerian maupun non dsc_0911Kementerian dan 20 item PUI di Perguruan Tinggi. Dibahas pula mengenai arah pembinaan kelembagaan yang terdiri dari kapasitas, kapabilitas dan kontinuitas PUI yang didalamnya termasuk penguatan tata kelola organisasi, peningkatan kemampuan sumberdaya manusia, dan dukungan dalam sarana serta prasarana demi terwujudnya capaian kinerja lembaga yang telah ditentukan. Saat ini P2 Laut Dalam-LIPI telah ditetapkan sebaga Pusat Unggulan Konservasi Sumberdaya Tuna yang dicanangkan pada tanggal 22 Desember 2016 sesuai SK Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No. 365/M/KPT/2016 tentang Penetapan Lembaga Litbang sebagai Pusat Unggulan Iptek tahun 2016 masuk pada tahapan pembinaan yang difokuskan pada penguatan kapasitas, kegiatan dan dukungan anggaran serta target capaian kinerja.

Pencapaian target sebagai pusat unggulan akan terjadi apabila setiap unsur organisasi P2 Laut Dalam-LIPI saling mendukung, menjalankan komitmen bersama dan bekerjasama serta aktif dalam berkomunikasi dan terbuka dalam setiap permasalahan yang ada guna mencapai solusi yang diinginkan, demikian Bapak Yudho Baskoro memberikan kata penutupnya dalam pertemuan di sesi pertama. Sesi kedua dilanjutkan dengan penjabaran mengenai kontrak insentif PUI 2017, kegiatan-kegiatan yang didukung oleh PUI dan diskusi.

LIPI: Kondisi Teluk Ambon 2016 Dinamis

teluk-ambon-foto-ichanmahiganAmbon, Tribun-Maluku.com : Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPLD-LIPI) Hanung Mulyadi mengatakan hasil monitoring Teluk Ambon pada 2016 menunjukan kondisi biota dan perairannya dinamis.

“Kondisi biota dan perairan pada tahun 2016 sangat dinamis. Kelimpahan fito dan zooplankton menunjukkan kecenderungan yang menurun dari akhir musim peralihan ke musim timur,” katanya di Ambon, Jumat (10/2).

Hanung yang juga Ketua Tim Monitoring Teluk Ambon mengatakan kondisi perairan Teluk Ambon berdasarkan pemantauan kimiawi menunjukkan, bahwa Teluk Ambon bagian dalam dan luar masih dalam kondisi normal, tetapi ada kecenderungan penurunan keasaman, kenaikan konsentrasi hara dan penurunan kadar oksigen terlarut.

Distribusi salinitas permukaan laut (Sea Surface Salinity – SSS) di Teluk Ambon bagian dalam cenderung lebih rendah dibandingkan dengan bagian luarnya.

Sedangkan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperatur – SST) di perairan teluk tersebut berubah mengikuti perubahan musim pada tiap bulannya. Distribusi SST cenderung lebih pada Maret 2016 merepresentasikan sedang terjadi musim barat.

“Memasuki April nampak bahwa SST di Teluk Ambon lebih rendah dibandingkan dengan Maret, ini merepresentasikan distribusi SST pada musim peralihan satu,” katanya.

Dikatakannya lagi, selama proses pemantauan Teluk Ambon pada 2016, ditemukan adanya konsentrasi logam berat, seperti tembaga (Cu) dan timbal (Pb) di dalam otot Siganus canalitus (ikan samandar), Rastreliger spp. (ikan lema), Selaroides sp. (ikan tola), Carnila sp. (ikan taruri) dan Nemiterus sp. (ikan sidemu).

Dari beberapa jenis ikan tersebut, Carnila sp. ditemukan mengakumulasi kandungan logam berat tembaga dan timbal yang paling tinggi.

Selain itu, ada dua jenis Echinodermata atau bulu babi dengan jumlah keseluruhan 82 individu yang ditemukan di daerah pasang surut.

“Frekuensi kehadiran Echinodermata di perairan Teluk Ambon sebesar 14,28 persen dengan nilai kepadatan sebesar 0,001 ind/m2,” katanya.

Untuk jenis mangrove, kata Hanung, sedikitnya ada delapan jenis yang tersebar di tiga lokasi di Kota Ambon, yakni di Desa Tawiri (enam jenis), kecamatan Teluk Ambon, dan di Desa Waiheru (lima jenis) dan Desa Passo (tiga jenis) di Kecamatan Baguala.

Jumlah kerapatan mangrove tertinggi berada di Tawiri. Untuk kategori semai ada pada Rhizophora apiculata sebesar 13.333 ind/Ha dan kategori belta, yakni Aegiceras corniculatum sebesar 667 teg/Ha.

“Untuk kategori pohon, terdapat Sonneratia alba sebanyak 400 ind/Ha,” ucapnya.

Sumber: http://www.tribun-maluku.com/2017/02/lipi-kondisi-teluk-ambon-2016-dinamis.html

LIPI: Penginderaan Satelit Zona Geomorfologi Pulau Pombo

pulau-pombo_seno-ajiAmbon, Tribun-Maluku.com : Peneliti dari Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPLD-LIPI) Ambon, Arif Seno Adji, mengatakan untuk mendapatkan informasi spasial yang akurat mengenai zona geomorfologi pulau Pombo, Kabupaten Maluku Tengah, diperlukan penginderaan jauh menggunakan citra satelit.

“Untuk pembangunan informasi spasial yang akurat dan detil tentang zona geomorfologi di sana membutuhkan pendekatan penginderaan jauh menggunakan citra satelit beresolusi tinggi,” katanya, di Ambon, Senin (13/2).

Pulau Pombo dan perairan di sekitarnya merupakan kawasan konservasi cagar alam taman laut yang ditetapkan melalui peraturan Menteri Pertanian Nomor 372 Tahun 1973.

Berdasarkan peraturan tersebut, pulau yang menjadi habitat hidup burung endemik Pombo Moluccensis itu, dibagi ke dalam dua kawasan, yakni cagar alam dengan luas wilayah sebanyak dua hektare dan taman wisata alam seluas 998 hektare.

“Penginderaan menggunakan citra satelit ini berkaitan dengan pemantauan, penilaian resiko, pemetaan dan pemodelan terhadap ekosistem terumbu karang di pulau Pombo,” ujar Arif.

Menurut dia, pembuatan peta zona geomorfologi dan komunitas benthos, yakni organisme yang hidup di dalam wilayah pulau Pombo menggunakan metode delineasi berdasarkan objek secara manual dan analisa dari nilai piksel.

Sedikitnya terdapat lima zona geomorfologi terumbu karang selain daratan dan perairan dalam, yakni laguna (lagoon), rataan terumbu bagian dalam (reef flat inner), rataan terumbu bagian luar (reef flat outer), puncak terumbu (reef crest), dan lereng terumbu (reef slope).

Tiap-tiap zona tersebut memiliki luasan yang berbeda. Rataan terumbu bagian dalam memiliki luasan yang paling besar dibandingkan empat zona lainnya, yakni 71,69 hektare.

Secara spasial, zona rataan terumbu bagian dalam terdistribusi hampir di seluruh bagian rataan terumbu, terutama di sebelah selatan pulau.

“Luas laguna sekitar 28,81 hektare, rataan terumbu bagian dalam ada 71,69 hektare, rataan terumbu bagian luar 30,75 hektare, puncak terumbu 18,84 hektare, dan lereng terumbu 18,19 hektare,” katanya.

Sumber: http://www.tribun-maluku.com/2017/02/lipi-penginderaan-satelit-zona-geomorfologi-pulau-pombo.html