Bangkai Paus Terdampar di Pantai Dusun Hulung, Seram Bagian Barat, Maluku

Press Release

Informasi adanya hewan laut yang terdampar di pantai Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat sejak tanggal 9 Mei 2017 telah membuat gempar warga sekitar desa.  Beberapa warga menduga hewan yang terdampar adalah cumi raksasa, hal ini membuat warga semakin penasaran. Pun ditambah adanya informasi yang beredar menyebutkan beberapa biota laut dan ikan di sekitar bangkai hewan tersebut mati, semakin menghebohkan warga. Disamping itu bau yang timbul akibat pembusukkan semakin menyengat dan mengganggu aktifitas warga disekitar terdamparnya bangkai hewan laut tersebut.

Untuk meluruskan kesimpangsiuran berita yang beredar dan memberikan solusi penanganan bangkai hewan laut yang terdampar tesebut maka pada hari Jumat, tanggal 12 Mei 2017 Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Dr. Augy Syahailatua mengirim tim observasi lapangan yang terdiri dari Dharma Arif Nugroho, S.Si, M.Si (peneliti), La Pay (Teknisi), dan Tri Widodo (Teknisi) untuk melakukan pengamatan, pengukuran, dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Tim observasi melakukan pengamatan langsung di lapangan tanggal 12 Mei 2017, pukul 18.43 WIT, pada kondisi air laut surut untuk memudahkan pengukuran dan pengambilan foto serta sampel dari tubuh hewan laut tersebut.

img_1314a

Pengukuran morfometri tubuh paus

Hasil observasi terhadap bangkai hewan laut diperoleh data berupa posisi geografis 03˚20’56,8” LS, 128˚02’51,7” BT, data morfometri tubuh yang terekam yaitu panjang tubuh 23,20 m, lebar tubuh 6,50 m, panjang sirip dada 2,80 m, panjang sirip ekor 1,74 m, lebar sirip ekor 0,59 m, lebar seluruh sirip ekor 3,33 m, panjang tulang rahang bawah yang tampak 5,30 m, panjang rahang atas 3,73 m, lebar rahang atas 1,35 m, panjang ruas tulang dekat ekor 0,27 m, panjang ruas tulang dekat punggung 0,70 m.

Secara visual berdasarkan ciri karakter morfologi yang dapat digunakan untuk identifikasi adalah sirip ekor, sirip dada, tulang kerangka tubuh, baleen yang terdapat pada rahang atas, guratan pada bagian dada dekat sirip dada. Atas dasar ciri tersebut dapat dipastikan bahwa hewan laut yang terdampar adalah seekor PAUS yang merupakan mamalia laut dan bukan ikan, sehingga informasi yang menyatakan bahwa hewan tersebut cumi raksasa adalah tidak benar. Adapun jenis paus yang terdampar cukup sulit untuk dapat diidentifikasi karena bangkai yang tidak utuh lagi, kesulitan dalam identifikasi ini juga dipengaruhi oleh posisi bangkai dengan bagian perut-dada berada di atas sedangkan bagian punggung dan kepala berada di bawah.

img_1270

Flukes 

img_1266

Flipper

img_1300

Ventral plates

img_1317

rostrum with baleen

Secara umum berdasarkan karakter yang masih nampak jelas berupa bentuk sirip dada (flipper), bentuk sirip ekor (flukes), rahang atas (rostrum), gurat perut (ventral pleats) dan adanya baleen serta tulang mandible menunjukkan paus tersebut termasuk dalam kelompok sub-bangsa (subordo) Mysticeti, suku (family) Balaenopteridae, marga (genus) Balaenoptera.  Penentuan jenis spesifik (species) tidak dapat dilakukan karena posisi tubuh bagian atas (punggung/dorsal) berada dibawah, sehingga tidak dapat dilihatnya bentuk dan jumlah lubang hidung (blowhole) serta bentuk sirip punggung (dorsal fin). Selain itu panjang guratan perut juga tidak jelas karena bagian perut sudah tidak utuh lagi. Selanjutnya penentuan jenis paus menunggu hasil uji DNA dari sampel yang telah diambil.

img_1287

Pengambilan sampel DNA

Biota laut yang mati disekitar bangkai paus hanya terjadi pada radius 1 meter. Biota yang mati berupa cacing Sipunculid dan bintang mengular, kemungkinan diakibatkan oleh darah yang keluar atau lemak dari bangkai yang mulai lembek dan mencair sehingga mempengaruhi biota yang berada didalam substrat.

img_1303

Cacing Sipunculid

img_1293

Bintang mengular

Penanganan terhadap bangkai paus yang perlu dilakukan adalah dengan cara mengubur, selanjutnya jika pemerintah daerah setempat berniat untuk mengkoleksi kerangka tulang paus dapat menggali kembali. Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara penenggelaman bangkai paus di area luar tubir pantai sehingga tidak mengganggu ekosistem terumbu karang yang biasanya terdapat di sekitar tubir pantai.