Sekilas tentang keberadaan logam berat di Teluk Ambon

Oleh:
Corry Yanti Manullang

Pencemaran yang terjadi di lingkungan pesisir dan laut, kini menjadi topik perbincangan yang serius. Pencemaran lingkungan laut tidak saja terjadi di negara maju, bahkan terjadi sangat serius di negara yang berkembang atau sedang berkembang (Supriharyono, 2009). Hasil-hasil penelitian melaporkan bahwa pencemaran di daerah pesisir dan laut telah mempengaruhi kematian spesies laut, mengancam kesehatan manusia dan berpotensi juga merusak fungsi ekosistem laut secara permanen (Sindermann, 2006).

Tingginya pencemaran di muara dan pantai dipengaruhi oleh adanya paradigma yang keliru bahwa laut yang luas dapat dijadikan sebagai tong sampah yang ideal yang mampu menampung dan melarutkan segala polusi dari darat. Paradigma ini tidak didasarkan pada kenyataan bahwa laut juga mempunyai keterbatasan dalam hal menguraikan bahan tercemar. Laut menerima bahan-bahan yang terbawa oleh air dari daerah pertanian, limbah rumah tangga, sampah dan bahan buangan dari kapal (McLusky & Elliott, 2004). Read more

Berburu (Jejak) Duyung di Selat Haruku

Duyung adalah salah satu hewan laut yang sangat menarik perhatian, terutama terkait dengan sebutannya sebagai ikan duyung maupun mitos putri duyung. Walaupun disebut ikan duyung namun sebenarnya hewan ini sebenarnya adalah mamalia, karena sang induk melahirkan dan menyusui anaknya. Sedangkan putri duyung sendiri adalah cerita yang dipopulerkan oleh Hans Christian Anderson, yang wujudnya jauh dengan duyung. Duyung sendiri lebih mirip sapi yang memiliki sirip dan ekor daripada seorang putri yang berekor seperti ikan.

Pada tahun 1994 dan 1995, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Hans de Iongh dari Belanda melakukan penelitian mengenai duyung yang hidup di sekitar Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease (Haruku, Saparua dan Nusa Laut). Mereka menggunakan pesawat kecil untuk survey udara di kawasan ini dan hasilnya diperkirakan terdapat 22-37 duyung di perairan ini. Selain itu dilakukan juga pemasangan pemancar pada beberapa ekor duyung sehingga beberapa lokasi inti tempat duyung sering muncul diketahui, salah satunya adalah di pesisir Selat Haruku.  Sayangnya penelitian yang menarik ini terhenti seiring terjadinya konflik sosial di Maluku.

Read more

Bia Manis Yang Kian Habis

Bia manis merupakan istilah yang dipakai orang Ambon untuk menyebut kerang kerek atau venus clam (Gafrarium sp.). Meskipun demikian, adapula yang menyebutnya bia pica balanga disebabkan ketika dimasukkan dalam belanga, kerang tersebut langsung pica (pecah). Kerang yang termasuk famili Veneridae (Kelas: Bivalvia) ini telah dikenal sebagai salah satu kerang bernilai ekonomis penting. Kerang ini telah dimanfaatkan sebagai sumber protein di beberapa negara seperti India, China, Jepang dan New Caledonia. Cangkangnya dapat pula digunakan untuk bahan pembuatan souvenir dan perhiasan.

Di kawasan Teluk Ambon, bia manis hampir tersebar di seluruh pesisir terutama yang memiliki substrat pasir dan berlumpur. Umumnya kepadatannya akan lebih tinggi di daerah dengan adanya vegetasi mangrove. Kerang ini menjadi salah satu target pencarian kerang konsumsi terutama pada saat pantai dalam kondisi surut yang dilakukan oleh penduduk lokal. Aktivitas ini biasa dikenal dengan istilah bameti. Read more