Pos

DEGRADASI TERUMBU KARANG TELUK AMBON DAN UPAYA REHABILITASI

 

Oleh

Daniel D. Pelasula

Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI

Email : pelasuladaniel@gmail.com

1

Teluk Ambon secara geomorfologi terbagi atas dua bagian, yaitu Teluk Ambon Dalam (TAD) yang bersifat lebih tertutup dan Teluk Ambon Luar (TAL) yang bersifat terbuka karena berhadapan langsung dengan Laut Banda. Kedua bagian teluk ini dipisahkan oleh satu ambang ( Sill) yang sempit dan dangkal yang dikenal sebagai ambang Poka-Galala. Teluk Ambon merupakan bagian yang sangat penting dari wilayah Pulau Ambon, karena pesisir Teluk Ambon saat ini telah menjadi pusat kegiatan diberbagai bidang seperti pemukiman, aktivitas sosial, ekonomi, perhubungan, pelabuhan dan lain-lain. Perkembangan yang semakin cepat akhir-akhir ini sehingga telah merubah wajah dan fungsi dari pesisir dan perairan Teluk Ambon. Sebagai konsekwensinya muncul berbagai dampak yang secara langsung maupun tidak langsung menurunkan kualitas perairan termasuk berdampak pada menurunnya tiga ekosistim penting yang berada di Teluk Ambon yaitu : ekosistim mangrove, padang lamun dan ekosistim terumbu karang.

Ketiga ekosistim ini dalam 20 tahun belakang menunjukan penurunan baik dari luasan maupun dari segi kesehatannya. Kusus untuk ekosistim terumbu karang hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI dengan menggunakan metode LIT dilakukan pada 8 lokasi Teluk Ambon yakni : Liliboy, Hative Besar, Eri, Batu Capeu, Kota Jawa, Poka, Halong dan Hunuth. Hasilnya menunjukan penutupan komponen dasar kususnya persen penutupan karang hidup disajikan pada table 1. Data ini memberikan gambaran perbandingan dua periode waktu yakni : tahun 2012 dan Tahun 2015. Gambaran data tersebut menunjukan bahwa terdapat 3 lokasi yang mengalami perbaikan persen penutupan karang yakni ; Liliboy, Eri dan Batu Capeu. Ketiga lokasi ini berada di Teluk Ambon Bagian luar ( TAL) sedangkan ke lima lokasi mengalami penurunan yakni : Hative besar , Kota Jawa (Rumahtiga), Poka , Halong , Hunuth. Persen penutupan pada gambar 1

2

Gambar 1 . Persen penutupan karang tahun 2012 – 2015

Terjadinya degradasi kondisi terumbu karang di sebabkan oleh tertutupnya koloni karang oleh sedimen, yang bersumber dari pembukaan lahan atas secara tidak terencana. Disamping itu, pembuangan sampah padat ke laut, termasuk plastik yang memberi beban tambahan berat terhadap terumbu karang. Sampah plastik selain dapat membungkus terumbu karang, juga mengurangi penetrasi cahaya matahari yang sangat dibutuhkan mahluk hidup. Turut memberikan kontribusi kematian karang adalah pembangunan Jembatan Merah Putih.

Berdasarkan data tersebut diatas maka melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2015 dan Tahun 2016 memberi kepercayaaan kepada Pusat Penelitian Laut Dalam untuk melakukan Rehabilitas fisik terumbu karang di dua lokasi yang terdapat di Teluk Ambon Bagian Dalam (TAD) yakni : Tanjung Tiram Desa Poka dan Desa Hunuth dan Satu Lokasi Teluk Ambon Luar Yaitu : Batu Capeu Desa Amahusu Kecamatan Nusaniwe kota Ambon (Peta Lokasi Pada Gambar 1 ) Ketiga lokasi ini. Dengan adanya kegiatan rehabilitasi terumbu karang berbasis masyarakat ini diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi ekologis dan sosial ekonomi dari ekosistem pesisir dan laut.

3

Lokasi rehabilitasi terumbu karang di Air Salobar, Tanjung Tiram, dan Kate-kate

 

Rehabilitasi ekosistim terumbu karang dengan teknik transplantasi Teluk Ambon Dalam bertujuan :

  1. Melindungi dan memperbaiki struktur, fungsi dan integritas ekosistim serta sumberdayanya
  2. Mengurangi laju degradasi terumbu karang
  3. Mejadikan area transplantasi sebagai Zona inti sehingga dapat berfungsi sebagai penyedia sumberdaya perikanan bagi nelayan .
  4. Mengembangkan, menjaga, serta meningkatkan dukungan masyarakat dalam upaya pengelolaan terumbu karang

Sasaran

Sasaran kegiatan ini antara lain:

  1. Mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak, dan dapat pula dipakai untuk membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada.
  2. Menambah karang dewasa ke dalam suatu populasi sehingga dapat meningkatkan produksi larva di ekosistem terumbu karang.
  3. Meningkatnya peran serta masyarakat pesisir di dekat lokasi transplantasi karang

 

Tahapan Kegiatan

1.Pembuatan meja transplantasi

Tahap pembuatan media transplantasi dimulai dengan penyiapan alat dan material untuk pembuatan lembaran media beton. Selanjutnya pembuatan cetakan media transplan yang terbuat dari papan dengan ukuran 60 x 60 cm sebanyak 10 unit. Komposisi bahan pembuatan media taransplan terdiri dari semen, pasir dan dan batu split Proses pembuatan meja transplantasi pada gambar 2

4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6

Gambar 2. Proses Pembuatan Meja Transplantasi

2.Sosialisasi kepada masyarakat

Sosialisasi transplantasi terumbu karang dimaksudkan untuk memberikan bekal teori dan praktek dalam memindahkan koloni (transplantasi) terumbu karang, merawat dan menjaganya, dijelaskan faktor – faktor penyebab kerusakan terumbu karang. Kegiatan transplantasi karang yang dilaksanakan merupakan salah satu solusi untuk memulihkan kondisi terumbu karang secara bertahap. Diharapkan kegiatan sosialisasi ini dapat mendorong masyarakat dan mahasiswa untuk turut menjaga kelestarian terumbu karang, sekaligus dapat juga

 

5

5-3

5-2

Gambar 4 Proses Sosialisasi transplantasi kepada masyarakat dan Mahasiswa KKN

3. Donor Transplan

Donor transplan diambil dari Kampung Kota Jawa Desa Rumahtiga untuk penanaman pada lokasi Kate kate Desa Hunut dan Tanjung Tiram Desa Poka , sedangkan untuk lokasi Batu Capeu Desa Amahusu di ambil disekitar lokasi transplantasi. Jenis-jenis terumbu yang diambil sebagai donor sebagian besar terdiri dari jenis karang bercabang yaitu : Acropora. spp, Porites cylindrica, Millepora dichotoma dan sebagian kecil jenis sub-masive dari jenis Karang Stylopora.sp , Pectinia lactuca, Symphyllia.Sp dan Montipora. Spp dan Juga transplan yang diambil adalah yang sudah patah dari koloni besarnya. Koloni ini nantinya akan dipotong-potong sepanjang 5 -10 cm. Fragmen karang yang akan digunakan sebagai bibit dimasukan dalam keranjang plastik kemudian dibawa dengan perahu kerja (long boat) menuju lokasi transplantasi. Gambar 5 Pengambilan bibit karang

 

6-1 6 6-2 6-3

Gambar : 5 Pengambilan bibit karang

 

4. Pengikatan fragmen pada meja transplatasi

Fragment karang yang telah disiapkan dengan ukuran 5 – 10 cm, diikatkan pada pasak paku di media transplan yang telah disusun di dasar perairan yang dangkal kurang lebih 50 cm kedalaman air sehingga memudahkan proses pengikatan. Untuk setiap lembar meja/ media diikat 9 anakan dengan satu pengikat, tetapi bila dianggap perlu dapat digunakan lebih dari satu. Pada saat pengikatan, pangkal fragmen disentuhkan/ditempelkan pada permukaan media.

7-1 7-2 6-3 7-3

Gambar : 6 Proses Penanama fragmen karang pada meja tranplantasi

5. Pemindahan /Peletakan pada lokasi permanen

Setelah pengikatan selesai dan fragmen terikat kuat (tidak goyah) ujung pengikat dipotong. Selanjutnya dilakukan pemindahan meja transplantasi ke lokasi penanaman. Kedalaman air pada lokasi penanaman lebih kurang 6 m waktu pasang atau 4 meter ketika air surut. Pemindahan ini dilakukan penyelam SCUBA yang didukung dengan peralatan liftingbouy. Penempatan di lokasi Tanjung Tiram Desa Poka dan Dusun kate keta desa Hunuth masing –masing sebanyak 36 meja tranplantasi dengan jumlah anakan sebanyak 324 anakan dengan luas area terumbu karang seluas 64,8 m ² dengan perincian 32,4 m ² di Tanjung Tiram Desa Poka dan 32,4 m ² Dusun Kate Kate Desa Hunuth sedangkan di Batu Capeu sebanyak 60 Meja dengan luas 216 m ² dengan jumlah anakan sebanayak 540 anakan.

8-2 8-1 8-3 8-4

Gambar 7 Posisi Meja transplantasi pada lokasi penanaman

6. Monitoring Tingkat Keberhasilan

Kegiatan monitoring dilakukan pada anakan karang berumur satu bulan untuk mengetahui fase penyembuhan. Apabila terdapat anakan karang yang mati akan diganti dengan yang baru, selanjutnya pemantauan terhadap pertumbuhan pada umur 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun. Selanjutnya akan dilakukan analisa tingkat keberhasilan sehingga didapatkan data dan informasi serta metode yang tepat dalam pelaksanaan rehabilitasi terumbu karang . Hasil monitoring pada umur karang 1 bulan menunjukan bahwa tingkat keberhasilan mencapai 96 %. Gambar 8. Di bawah ini menunjukan umur karang pada usia 1 bulan .

 

99-0

Acropora cerealis Euphyllia glabrescens

9-12 9-11

Montipora danae Pocillopora verrucosa

9-10 9-9

Goniopora lobata Hydnophora rigida

9-8 9-7

Caulastrea furcata Goniopora lobata

9-6 9-5

Lobophyllia dentatus Stylophora pistillata

9-4 9-3

Acropora sp Acropora sp.

9-2 9-1

Acropora microphthalma Hydnophora exesa

Gambar 8 : Pertumbuhan karang pada usia 1 bulan

 

Kesimpulan

Kegiatan transplantasi karang di Teluk Ambon ini merupakan intervensi manusia untuk membantu memulihkan tingkat kerusakan karang yang cukup tinggi, sehingga diharapkan dapat memulihkan kondisi terumbu karang secara bertahap. Beberapa kesimpulan dan saran yang perlu disampaikan sebagai berikut :

  1. Tingkat kerusakan terumbu karang yang terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun disebabkan oleh aktifitas masyarakat di lahan atas Pulau Ambon yang tidak terkendali, berkaitan dengan hal tersebut upaya rehabilitasi terumbu karang akan menjadi kegiatan yang tidak berarti , karena itu perlu dibarengi dengan upaya pengendalian aktivitas masyarakat di daratan perlu dilakukan Pemda dan masyarakat.
  2. Pemulihan kualitas lingkungan melalui program laut bersih, penataan berbagai usaha masyarakat sepadan pantai Teluk Ambon, penataan sistim pembuangan sampah, penghijauan lahan gundul di perbukitan.
  3. Perlu dilakukan Rehabilitasi ekosistem terumbu karang, lamun dan hutan mangrove dalam skala besar minimal 50 % dari tingkat kerusakan ketiga ekosistim ini.
  4. Membuat peraturan yang diperlukan dan revitalisasi peraturan yang ada dan konsistensi dalam penerapan, pemantauan dan pengendalian.
  5. Perlu adannya mata pejaran mengenai lingkungan laut mulai dari tingkat SD sampai dengan tingkat SLTA.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Herdiana, Y. 2001.Respon Pertumbuhan serta Keberhasilan Transplantasi Koral Terhadap Ukuran Fragmen dan Posisi Penanaman pada Dua Spesies Karang Acropora micropthalma (Verill, 1869) dan Acropora intermedia (Brook, 1891) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Skripsi. FPIK-IPB. Tidak dipublikasikan.
  2. Ikawati, Y., P.S. Hanggarawati, H. Parlan, H.Handini, dan B.Siswodihardjo. 2001. Terumbu Karang di Indonesia. Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 139h
  3. Johan O.2000.Tingkat Keberhasilan transplantasi Karang Batu di Pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta.Tesis.Program Pasca Sarjana IPB.Tidak dipublikasikan.
  4. Sadarun. 1999. Transplantasi Karang Batu di Kepulauan Seribu Teluk Jakarta. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.Tidak dipublikasikan
  5. Subhan, B. 2003. Tingkat Kelangsungan Hidup dan Laju Pertumbuhan Karang Jenis Euphyllia sp., Plerogyra sinuosa dan Cynarina lacrymaris yang ditransplantasikan di perairan Pulau Pari. Skripsi. Tidak Dipublikasikan
  6. Suharsono. 1996. Jenis-jenis Karang yang Umum Dijumpai di Perairan Indonesia. Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta.