Posts

Seminar Penelitian Pembuatan Alat Perangkap Sampah di Teluk Ambon

Penelitian dalam rangka membangun perangkap sampah di perairan Teluk Ambon akan dilaksanakan oleh mahasiswa dari Hanze University of dsc_6232Applied Sciences Groningen, jurusan Teknik Sipil yaitu Koen van der Brink dan Rob Dammer. Dengan mengadaptasi perangkap sampah yang terdapat di Rotterdam, perangkap sampah dengan teknologi dan metode yang hampir serupa akan diterapkan di Teluk Ambon dengan memperhatikan material dan kondisi laut yang ada. Hal ini merupakan pengembangan dari pembuatan perangkap sampah yang sebelumnya telah dilakukan oleh mahasiswa dari Universitas Rotterdam pada tahun 2017 lalu. Penelitian mengenai arus, kondisi lingkungan di sekitar perairan, biota laut, dan jenis sampah, sangat diperlukan guna menentukan lokasi dan desain dari perangkap sampah tersebut.

dsc_6220Presentasi perencanaan pembuatan perangkap sampah dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Maret 2018 pukul 10.00 WIT di Ruang Pertemuan P2 Laut Dalam – LIPI. Dihadiri oleh Kepala P2 Laut Dalam – LIPI, para peneliti P2 Laut Dalam – LIPI dan Ibu Irene Sohilay dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Ambon. Dalam presentasinya, Brink mengemukakan beberapa parameter yang menentukan lokasi perangkap sampah diantaranya adalah tidak banyak ikan yang berada di perairan, banyaknya sampah, tidak adanya lalu lintas kapal atau perahu serta area perairannya cukup luas untuk menempatkan “catching arms” dari perangkap sampah ini. Perangkap sampah didesain dengan mempertimbangkan material lokal yang ada dsc_6217dengan biaya yang terjangkau namun memiliki kualitas yang baik serta akan dilengkapi dengan jangkar untuk mengantisipasi hilangnya perangkap sampah dikarenakan arus dan gelombang yang kuat.

Tidak hanya itu, penelitian juga akan berfokus untuk membangun kesadaran masyarakat tentang masalah sampah terutama yang terdapat di laut. Maka, setiap dua minggu sekali akan dilakukan review dan hasilnya akan diunggah ke media sosial karena sampah bukan hanya masalah untuk perairan Teluk Ambon tetapi sudah menjadi masalah global, demikian ujar Dammer dan Brink.

Membentuk kemitraan antara LIPI, Pemerintah Kota Ambon dan Recycled Park of Rotterdam pun dirasa cukup baik guna penanganan maksimal mengenai sampah terutama yang berada di perairan Teluk Ambon dan sekitarnya. Pembuatan perangkap sampah dijadwalkan pada bulan Maret dan April 2018, diharapkan perangkap sampah sudah dapat diturunkan ke perairan Teluk Ambon pada bulan Mei 2018.

Kegiatan Monitoring Teluk Ambon

teluk-ambon-2Pusat Penelitian Laut Dalam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan kegiatan penelitian Monitoring Teluk Ambon selama 4 (empat) hari pada tanggal 4 sampai 7 April 2017.  Kegiatan penelitian dilakukan untuk mengungkap dinamika Teluk Ambon secara berkala, baik kondisi fisika-kimia, tingkat pencemaran maupun biota-biota laut yang ada didalamnya.

Dalam aspek Oseanografi (Kimia dan Fisika), Teluk Ambon diukur suhu, salinitas dan keasamannya secara in situ menggunakan CTD (Conductivity Temperature Depth) dan pH meter. Diteliti pula mengenai pencemaran terutama kandungan logam beratnya dengan mengambil sampel sedimen di Teluk Ambon.

Sampel air diambil dengan botol van Dorn pada beberapa tingkat kedalaman untuk dianalisa jenis dan kelimpahan plankton serta kandungan oksigen terlarut (DO) dan nutrient (nitrat, nitrit, fosfat, silikat, dan ammonia). DO dan nutrient diukur di Laboratorium Kimia, Pusat Penelitian Laut Dalam – LIPI dengan menggunakan metode titrasi Winkler dan spektrofotometri UV-Visible. Untuk aspek Biologi diambil sampel biota yaitu Moluska, Bulu Babi, Kepiting, Rumput Laut, Ikan, dan Plankton.

Kegiatan penelitian Monitoring Teluk Ambon melibatkan 7 (tujuh) orang peneliti dan 13 (tiga belas) orang teknisi. Lokasi penelitian yaitu Teluk Ambon Dalam dan Teluk Ambon Luar (wilayah administratif Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah) dan terdapat 18 (delapan belas) stasiun penelitian.

LIPI: Kondisi Teluk Ambon 2016 Dinamis

teluk-ambon-foto-ichanmahiganAmbon, Tribun-Maluku.com : Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPLD-LIPI) Hanung Mulyadi mengatakan hasil monitoring Teluk Ambon pada 2016 menunjukan kondisi biota dan perairannya dinamis.

“Kondisi biota dan perairan pada tahun 2016 sangat dinamis. Kelimpahan fito dan zooplankton menunjukkan kecenderungan yang menurun dari akhir musim peralihan ke musim timur,” katanya di Ambon, Jumat (10/2).

Hanung yang juga Ketua Tim Monitoring Teluk Ambon mengatakan kondisi perairan Teluk Ambon berdasarkan pemantauan kimiawi menunjukkan, bahwa Teluk Ambon bagian dalam dan luar masih dalam kondisi normal, tetapi ada kecenderungan penurunan keasaman, kenaikan konsentrasi hara dan penurunan kadar oksigen terlarut.

Distribusi salinitas permukaan laut (Sea Surface Salinity – SSS) di Teluk Ambon bagian dalam cenderung lebih rendah dibandingkan dengan bagian luarnya.

Sedangkan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperatur – SST) di perairan teluk tersebut berubah mengikuti perubahan musim pada tiap bulannya. Distribusi SST cenderung lebih pada Maret 2016 merepresentasikan sedang terjadi musim barat.

“Memasuki April nampak bahwa SST di Teluk Ambon lebih rendah dibandingkan dengan Maret, ini merepresentasikan distribusi SST pada musim peralihan satu,” katanya.

Dikatakannya lagi, selama proses pemantauan Teluk Ambon pada 2016, ditemukan adanya konsentrasi logam berat, seperti tembaga (Cu) dan timbal (Pb) di dalam otot Siganus canalitus (ikan samandar), Rastreliger spp. (ikan lema), Selaroides sp. (ikan tola), Carnila sp. (ikan taruri) dan Nemiterus sp. (ikan sidemu).

Dari beberapa jenis ikan tersebut, Carnila sp. ditemukan mengakumulasi kandungan logam berat tembaga dan timbal yang paling tinggi.

Selain itu, ada dua jenis Echinodermata atau bulu babi dengan jumlah keseluruhan 82 individu yang ditemukan di daerah pasang surut.

“Frekuensi kehadiran Echinodermata di perairan Teluk Ambon sebesar 14,28 persen dengan nilai kepadatan sebesar 0,001 ind/m2,” katanya.

Untuk jenis mangrove, kata Hanung, sedikitnya ada delapan jenis yang tersebar di tiga lokasi di Kota Ambon, yakni di Desa Tawiri (enam jenis), kecamatan Teluk Ambon, dan di Desa Waiheru (lima jenis) dan Desa Passo (tiga jenis) di Kecamatan Baguala.

Jumlah kerapatan mangrove tertinggi berada di Tawiri. Untuk kategori semai ada pada Rhizophora apiculata sebesar 13.333 ind/Ha dan kategori belta, yakni Aegiceras corniculatum sebesar 667 teg/Ha.

“Untuk kategori pohon, terdapat Sonneratia alba sebanyak 400 ind/Ha,” ucapnya.

Sumber: http://www.tribun-maluku.com/2017/02/lipi-kondisi-teluk-ambon-2016-dinamis.html